Hari Baru

Setiap orang punya mimpi. Satu hal, yang pasti semua orang akan setuju. Aku juga. Yang berbeda adalah bagaimana seseorang akan menjemput mimpi. Ada yang menggulung kasur, lalu bangkit. Membuat undakan capaian, walaupun sejumput demi sejumput. Ada juga yang kembali menggelar kasur, tidur. Lebih mudah dan bisa jadi lebih indah. Hanya saja, ia tak nyata.

Tapi, ada satu hal lagi yang pasti orang sesungguhnya akan menyetujui juga. Bahwa mimpi harus dikejar, meski berdarah-darah, menelan jutaan pil pahit. Semua orang setuju, tapi hanya sebagian yang mengeksekusinya.

Aku berulang kali membaca pernyataan serupa. Tentu dalam format kalimat yang berbeda, tapi substansinya sama. When you dream it, you can do it. Harus bisa. Berulangkali meyakinkan diri. Tapi sampai saat ini masih hanya seonggok mimpi. Aku tak bergerak, walau hanya sejengkal. Terus merutuki nasib, menghitung-hitung, mengira peruntungan yang dirasa tak juga untung. Benar memang, seperti orang jualan. Sehari mungkin kau rugi, tapi jika kau kumulasikan penjualan dalam satu bulan, mungkin kamu baru dalam melihat dan merasakan keuntungannya.

Mimpipun begitu. Jika kamu baru satu kali melangkah, kamu belum bisa melihat sepercikpun buahnya, hasilnya. Tapi jika kamu sudah melangkah seribu langkah, kamu akan tau, bahwa satu langkahmu sungguh sangat berarti.

Dan mulai hari ini, aku akan memulai langkahku. Meski pertanyaan-pertanyaan seberapa aku siap dan mampu menghadang hari-hari ke depan, aku tak peduli. Sulit, segala hal sulit ketika memulai. Tapi aku malu.

Bayangkan, setiap pagi, mendahului mentari, Ibuku dan Ayahku mengendarai motor bututnya ke pasar. Menjempu rupiah demi rupiah rezeki. Bukan.. pasar di daerahku tak sebersih mall-mall di kota. Belakang tempat ibuku berjualan ada tumpukan sampah. Jika hujan, pasar semakin bejek, kumuh dan menjijikkan. Sedang aku, aku hanya bertugas ngaji dan kuliah.

Di waktu Ibuku berangkat pasar, aku sedang ngaji di asrama. Di waktu Ibuku berpanas-panasan di pasar, aku sedang tidur-tiduran. Malas. Memilih malas daripada sekadar membuka jurnal, buku, atau ke perpustakaan. Malu sekali. Maka hari ini, aku akan memulai hari baru. Agar perjuangan Ibuku tak sia-sia, agar Ibuku bisa melihat putrinya memakai baju toga. Membahagiakannya sampai sisa akhir hayatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

About Me

Kata Asma Nadia, Menulis adalah Perjuangan