Kata Asma Nadia, Menulis adalah Perjuangan

Beberapa menit yang lalu, baru saja menilik akun twitter yang sudah lama tidak di buka. Miris memang. Sebab, lama tidak dibuka karena memang tidak asyik. Hidup di twitter tanpa follower tak seasik itu, gaez. Namun, tadi setelah iseng membuka kembali, ada twit dari Bunda Asma yang tidak menyadarkan saya, namun bisa dibilang salah satu alasan saya menulis detik ini.

Ya, "Menulis adalah perjuangan," tulisnya. Aku tidak tahu perjuangan seperti apa yang Bunda maksud. Tapi bagiku, menulis bukan hanya perkara skill, tapi juga kemauan. Bener tho? Gimana bisa nulis kalo kamu saja tidak mau menulis? Nah, soal kemauan ini yang kadang menjadi rumit. Bagiku, tentunya. Kemauan bagiku berarti membuang segala rasa malas, rasa minder, rasa tidak mampu, dan batinan berupa, "Lah ngopo nulis, nulis isine curhatan thok sampe seng moco ilfeel." Tapi, di beberapa menit kemudian aku ingat kata teman, "Kalo merasa gak bisa nulis, udah tetep tulis aja. Tulis apapun yang ada dipikiran kamu. Mau curhat kek, nulis diary kek, kan kita memang lagi belajar." Maka detik ini, dengan penuh percaya diri, aku nulis saja. Perjuanganku adalah menaklukkan rasa malas, rasa minder dan tetangga-tetangganya itu. Akhirnya, jadilah tulisan seperti ini.

Dan akhir setelah akhirnya, aku memang harus membenarkan perkataan Bunda Asma Nadia.
"Menulis adalah perjuangan." Menulis apapun adalah perjuangan.
Pun sama, menulis surat cinta juga perjuangan, apalagi kalau ternyata ditolak. Luka yang ini tak berdarah, tapi sakitnya sampe ke tulang rusuk :((((

Komentar

Postingan populer dari blog ini

About Me

Hari Baru